Blogger Template by Blogcrowds

We produce and sell Lurik, Craft of Lurik, Ikat and other crafts
Welcome to blog of lurik-pedan. Here we provide a variety of Pedan's weaving products, already well known throughout the archipelago and worlwide. In addition to producing fabrics with traditional motifs, we also produce ethnic motifs from different areas but we still maintain the Pedan typical. weaving centers in the Pedan Village, about 10 kilometers from the city of Klaten. District of Klaten make Pedan as places to fabrics dan fashion tour.
Bermimpilah besar karena Rajamu besar...Anak Kerajaan tidak takut dengan kata orang, tetapi melekatkan hatinya pada Sang Raja...Bukan engkau yang hebat, tetapi Rajamu yang hebat
Kami melayani pembuatan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM/Traditional Loom) untuk keperluan pengrajin, pelatihan, pameran, instansi dll.
We serve the manufacture of Traditional Loom machinery for craftsmen, training, exhibitions,institutions,etc.
Showing posts with label Beautifuly Indonesia. Show all posts
Showing posts with label Beautifuly Indonesia. Show all posts

Kain Tapis adalah pakaian wanita suku Lampung yang berbentuk kain sarung terbuat dari tenun benang kapas dengan motif atau hiasan bahan sugi, benang perak atau benang emas dengan sistim sulam (Lampung; "Cucuk").

Dengan demikian yang dimaksud dengan Tapis Lampung adalah hasil tenun benang kapas dengan motif, benang perak atau benang emas dan menjadi pakaian khas suku Lampung. Jenis tenun ini biasanya digunakan pada bagian pinggang ke bawah berbentuk sarung yang terbuat dari benang kapas dengan motif seperti motif alam, flora dan fauna yang disulam dengan benang emas dan benang perak.

Tapis Lampung termasuk kerajian tradisional karena peralatan yang digunakan dalam membuat kain dasar dan motif-motif hiasnya masih sederhana dan dikerjakan oleh pengerajin. Kerajinan ini dibuat oleh wanita, baik ibu rumah tangga maupun gadis-gadis (muli-muli) yang pada mulanya untuk mengisi waktu senggang dengan tujuan untuk memenuhi tuntutan adat istiadat yang dianggap sakral. Kain Tapis saat ini diproduksi oleh pengrajin dengan ragam hias yang bermacam-macam sebagai barang komoditi yang memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi.
[sunting] Sejarah Kain Tapis Lampung

Kain Tapis merupakan salah satu jenis kerajinan tradisional masyarakat Lampung dalam menyelaraskan kehidupannya baik terhadap lingkungannya maupun Sang Pencipta Alam Semesta. Karena itu munculnya kain Tapis ini ditempuh melalui tahap-tahap waktu yang mengarah kepada kesempurnaan teknik tenunnya, maupun cara-cara memberikan ragam hias yang sesuai dengan perkembangan kebudayaan masyarakat.

Menurut Van der Hoop disebutkan bahwa orang lampung telah menenun kain Brokat yang disebut Nampan (Tampan) dan kain Pelepai sejak abad II masehi. Motif kain ini ialah kait dan konci (Key and Rhomboid shape), pohon hayat dan bangunan yang berisikan roh manusia yang telah meninggal. Juga terdapat motif binatang, matahari, bulan serta bunga melati. Dikenal juga tenun kain tapis yang bertingkat, disulam dengan benang sutera putih yang disebut Kain Tapis Inuh.

Hiasan-hiasan yang terdapat pada kain tenun Lampung juga memiliki unsur-unsur yang sama dengan ragam hias di daerah lain. Hal ini terlihat dari unsur-unsur pengaruh taradisi Neolithikum yang memang banyak ditemukan di Indonesia.

Masuknya agama Islam di Lampung, ternyata juga memperkaya perkembangan kerajinan tapis ini. Walaupun unsur baru tersebut telah berpengaruh, unsur lama tetap dipertahankan.

Adanya komunikasi dan lalu lintas antar kepulauan Indonesia sangat memungkinkan penduduknya mengembangkan suatu jaringan maritim. Dunia kemaritiman atau disebut dengan zaman bahari sudah mulai berkembang sejak zaman kerajaan Hindu Indonesia dan mencapai kejayaan pada masa pertumbuhan dan perkembangan kerajaan-kerajaan islam antara tahun 1500 - 1700 .

Bermula dari latar belakang sejarah ini, imajinasi dan kreasi seniman pencipta jelas mempengaruhi hasil ciptaan yang mengambil ide-ide pada kehidupan sehari-hari yang berlangsung disekitar lingkungan seniman dimana ia tinggal. Penggunaan transportasi pelayaran saat itu dan alam lingkungan laut telah memberi ide penggunaan motif hias pada kain kapal. Ragam motif kapal pada kain kapal menunjukkan adanya keragaman bentuk dan konstruksi kapal yang digunakan.
[sunting] Jenis Tapis Lampung Menurut Asal pemakainya

Beberapa jenis kain tapis yang umum digunakan masyarakat Lampung Pepadun dan Lampung Saibatin adalah :

Tapis Lampung dari Pesisir :

* Tapis Inuh
* Tapis Cucuk Andak
* Tapis Semaka
* Tapis Kuning
* Tapis Cukkil
* Tapis Jinggu

Tapis lampung dari Pubian Telu Suku :

* Tapis Jung Sarat
* Tapis Balak
* Tapis Laut Linau
* Tapis Raja Medal
* Tapis Pucuk Rebung
* Tapis Cucuk Handak
* Tapis Tuho
* Tapis Sasap
* Tapis Lawok Silung
* Tapis Lawok Handak

Tapis Lampung dari Sungkai Way Kanan :

* Tapis Jung Sarat
* Tapis Balak
* Tapis Pucuk Rebung
* Tapis Halom/Gabo
* Tapis Kaca
* Tapis Kuning
* Tapis Lawok Halom
* Tapis Tuha
* Tapis Raja Medal
* Tapis Lawok Silung

Tapis Lampung dari Tulang Bawang Mego Pak:

* Tapis Dewosano
* Tapis Limar Sekebar
* Tapis Ratu Tulang Bawang
* Tapis Bintang Perak
* Tapis Limar Tunggal
* Tapis Sasab
* Tapis Kilap Turki
* Tapis Jung Sarat
* Tapis Kaco Mato di Lem
* Tapis Kibang
* Tapis Cukkil
* Tapis Cucuk Sutero

Tapis Lampung dari Abung Siwo Mego :

* Tapis Rajo Tunggal
* Tapis Lawet Andak
* Tapis Lawet Silung
* Tapis Lawet Linau
* Tapis Jung Sarat
* Tapis Raja Medal
* Tapis Nyelem di Laut Timbul di Gunung
* Tapis Cucuk Andak
* Tapis Balak
* Tapis Pucuk Rebung
* Tapis Cucuk Semako
* Tapis Tuho
* Tapis Cucuk Agheng
* Tapis Gajah Mekhem
* Tapis Sasap
* Tapis Kuning
* Tapis Kaco
* Tapis Serdadu Baris

[sunting] Jenis Tapis Lampung Menurut Pemakainnya

Tapis Jung Sarat

Dipakai oleh pengantin wanita pada upacara perkawinan adat. Dapat juga dipakai oleh kelompok isteri kerabat yang lebih tua yang menghadiri upacara mengambil gelar, pengantin serta muli cangget (gadis penari) pada upacara adat. Tapis Raja Tunggal

Dipakai oleh isteri kerabat paling tua (tuho penyimbang) pada upacara perkawinan adat, pengambilan gelar pangeran dan sutan.

Di daerah Abung Lampung Utara dipakai oleh gadis-gadis dalam menghadiri upacara adat.

Tapis Raja Medal

Dipakai oleh kelompok isteri kerabat paling tua (tuho penyimbang) pada upacara adat seperti : mengawinkan anak, pengambilan gelar pangeran dan sutan.

Di daerah Abung Lampung Utara tapis ini digunakan oleh pengantin wanita pada upacara perkawinan adat.

Tapis Laut Andak

Dipakai oleh muli cangget (gadis penari) pada acara adat cangget. Dipakai juga oleh Anak Benulung (isteri adik) sebagai pengiring pada upacara pengambilan gelar sutan serta dipakai juga oleh menantu perempuan pada acara pengambilan gelar sutan.

Tapis Balak

Dipakai oleh kelompok adik perempuan dan kelompok isteri anak seorang yang sedang mengambil gelar pangeran pada upacara pengambilan gelar atau pada upacara mengawinkan anak. Tapis ini dapat juga dipakai oleh muli cangget (gadis penari) pada upacara adat.

Tapis Silung

Dipakai oleh kelompok orang tua yang tergolong kerabat dekat pada upacara adat seperti mengawinkan anak, pengambilan gelar, khitanan dan lain-lain. Dapat juga dipakai pada saat pengarakan pengantin.

Tapis Laut Linau

Dipakai oleh kerabat isteri yang tergolong kerabat jauh dalam menghadiri upacara adat. Dipakai juga oleh para gadis pengiring pengantin pada upacara turun mandi pengantin dan mengambil gelar pangeran serta dikenakan pula oleh gadis penari (muli cangget). Tapis Pucuk Rebung

Tapis ini dipakai oleh kelompok ibu-ibu/para isteri untuk menghadiri upacara adat.

Di daerah Menggala tapis ini disebut juga tapis balak, dipakai oleh wanita pada saat menghadiri upacara adat.

Tapis Cucuk Andak

Dipakai oleh kelompok isteri keluarga penyimbang (kepala adat/suku) yang sudah bergelar sutan dalam menghadiri upacara perkawinan, pengambilan gelar adat.

Di daerah Lampung Utara tapis ini dipakai oleh pengantin wanita dalam upacara perkawinan adat.

Di daerah Abung Lampung Utara tapis ini dipakai oleh ibu-ibu pengiring pengantin pada upacara adat perkawinan. Tapis Limar Sekebar

Tapis ini dipakai oleh kelompok isteri dalam menghadiri pesta adat serta dipakai juga oleh gadis pengiring pengantin dalam upacara adat.

Tapis Cucuk Pinggir

Dipakai oleh kelompok isteri dalam menghadiri pesta adat dan dipakai juga oleh gadis pengiring pengantin pada upacara perkawinan adat.

Tapis Tuho

Tapis ini dipakai oleh seorang isteri yang suaminya sedang mengambil gelar sutan. Dipakai juga oleh kelompok orang tua (mepahao) yang sedang mengambil gelar sutan serta dipakai pula oleh isteri sutan dalam menghadiri upacara pengambilan gelar kerabatnya yang dekat.

Tapis Agheng/Areng

Dipakai oleh kelompok isteri yang sudah mendapat gelar sutan (suaminya) pada upacara pengarakan naik pepadun/pengambilan gelar dan dipakai pula oleh pengantin sebagai pakaian sehari-hari. Tapis Inuh

Kain tapis ini umumnya dipakai pada saat menghadiri upacara-upacara adat. Tapis ini berasal dari daerah Krui, Lampung Barat.

Tapis Dewosano

Di daerah Menggala dan Kota Bumi, kain tapis ini dipakai oleh pengantin wanita pada saat menghadiri upacara adat.

Tapis Kaca

Tapis ini dipakai oleh wanita-wanita dalam menghadiri upacara adat. Bisa juga dipakai oleh wanita pengiring pengantin pada upacara adat. Tapis ini di daerah Pardasuka Lampung Selatan dipakai oleh laki-laki pada saat upacara adat.

Tapis Bintang

Tapis Bintang ini dipakai oleh pengantin wanita pada saat upacara adat.

Tapis Bidak Cukkil

Model kain Tapis ini dipakai oleh laki-laki pada saat menghadiri upacara-upacara adat.

Tapis Bintang Perak

Tapis ini dapat dipakai pada upacara-upacara adat dan berasal dari daerah Menggala, Lampung Utara.
[sunting] Bahan dan Peralatan Tenun Tapis Lampung

Bahan Dasar Tapis Lampung

Kain tapis Lampung yang merupakan kerajinan tenun tradisional masyarakat Lampung ini dibuat dari benang katun dan benang emas. Benang katun adalah benang yang berasal dari bahan kapas dan digunakan sebagai bahan dasar dalam pembuatan kain tapis, sedangkan benang emas dipakai untuk membuat ragam hias pada tapis dengan sistim sulam.

Pada tahun 1950, para pengrajin tapis masih menggunakan bahan hasil pengolahan sendiri, khususnya untuk bahan tenun. Proses pengolahannya menggunakan sistim ikat, sedangkan penggunaan benang emas telah dikenal sejak lama.

Bahan-bahan baku itu antara lain :

Khambak/kapas digunakan untuk membuat benang. Kepompong ulat sutera untuk membuat benang sutera. Pantis/lilin sarang lebah untuk meregangkan benang. Akar serai wangi untuk pengawet benang. Daun sirih untuk membuat warna kain tidak luntur. Buah pinang muda, daun pacar, kulit kayu kejal untuk pewarna merah. Kulit kayu salam, kulit kayu rambutan untuk pewarna hitam. Kulit kayu mahoni atau kalit kayu durian untuk pewarna coklat. Buah deduku atau daun talom untuk pewarna biru. Kunyit dan kapur sirih untuk pewarna kuning.

Pada saat ini bahan-bahan tersebut diatas sudah jarang digunakan lagi, oleh karena pengganti bahan-bahan diatas tersebut sudah banyak diperdagangkan di pasaran. Peralatan Tenun kain Tapis

Proses pembuatan tenun kain tapis menggunakn peralatan-peralatan sebagai berikut :

Sesang yaitu alat untuk menyusun benang sebelum dipasang pada alat tenun. Mattakh yaitu alat untuk menenun kain tapis yang terdiri dari bagian alat-alat : Terikan (alat menggulung benang) Cacap (alat untuk meletakkan alat-alat mettakh) Belida (alat untuk merapatkan benang) Kusuran (alat untuk menyusun benang dan memisahkan benang) Apik (alat untuk menahan rentangan benang dan menggulung hasil tenunan) Guyun (alat untuk mengatur benang) Ijan atau Peneken (tunjangan kaki penenun) Sekeli (alat untuk tempat gulungan benang pakan, yaitu benang yang dimasukkan melintang) Terupong/Teropong (alat untuk memasukkan benang pakan ke tenunan) Amben (alat penahan punggung penenun) Tekang yaitu alat untuk merentangkan kain pada saat menyulam benang emas.


Pembuatan benang.
Proses pemintalan kapas sudah dikenal masyarakat batak dulu yang disebut “mamipis” dengan alat yang dinamai “sorha”. Sebelumnya hapas “dibebe” untuk mengembangkan dalam mempermudah pemintal membentuk keseragaman ukuran. Seorang memintal dan seorang memutar sorha. Kemudian sorha ini disederhanakan dengan mengadopsi teknologi yang dibawa oleh Jepang semasa penjajahan. Sorha yang lebih modern dapat melakukan pemintalan dengan tenaga satu orang.
Pewarnaan.
Ulos adalah sehelai kain tenunan yang dirangkai menggunakan motif khusus yang disebut “gatip”
Ulos itu terbuat dari benang, benang dipintal dari kapas. Benang awalnya berwarna putih, dan untuk mendapatkan warna merah disebut “manubar” dan untuk mendapatkan warna hitam disebut “mansop”.
Bahan pewarna ulos terbuat dari bahan daundaunan berbagai jenis yang dipermentasi sehingga menjadi warna yang dikehendaki. Bahan tambahan pewarnaan dari proses permwntasi ini disebut “Itom” yang pada era tahun 60 an masih ada ditemukan dipasaran toba.
Orang yang melakukan pewarnaan benang ini disebut “parsigira”
Gatip.
Rangkaian grafis yang ditemukan dalam ulos diciptakan pada saat benang diuntai dengan ukuran standard. Untaian ini disebut “humpalan”. Satuan jumlah penggunaan benang untuk bahan tenun disebut “sanghumpal, dua humpal” dst. Gatip dibuat sebelum pewarnaan dilakukan. Benang yang dikehendaki tetap berwarna putih, diikat dengan bahan pengikat terdiri dari serat atau daun serai.
Unggas.
Uanggas adalah proses pencerahan benang. Pada umumnya benang yang selesai ditubar atau disop, warnanya agak kusam. Benang ini diunggas untuk lebih memberikan kesan lebih cemerlang. Orang yang melakukan pekerjaan ini disebut “pangunggas” dengan peralatan “pangunggasan”.
Benang dilumuri dengan nasi yang dilumerkan kemudian digosok dengan kuas bulat dari ijuk. Nasi yang dilumerkan itu biasanta disebut “indahan ni bonang”.
Benang yang sudah diunggas sifatnya agak kenyal dan semakin terurai setelah dijemur dibawah sinar matahari terik.
Ani
Benang yang sudah selesai diunggas selanjutnya memasuki proses penguntaian yang disebut “mangani”. Namun untuk mempermudah mangani, benang sebelumnya “dihuhul” digulung dalam bentuk bola. Alat yang dibutuhkan adalah “anian” yang terditi dari sepotong balok kayu yang diatasnya ditancapkan tongkat pendek sesuai ukuran ulos yang dikehendaki. Dalam proses ini, kepiawaian pangani sangat menentukan keindahan ulos sesuai ukuran dan perhitungan jumlah untaian benang menurut komposisi warna.
Tonun
Tonun (tenun) adalah proses pembentukan benang yang sudah “diani” menjadi sehelai ulos. Mereka ini yang lajim disebut “partonun”.
Sirat
Proses terakhir menjadikan ulos yang utuh adalah “manirat”. Orang yang melakukan pekerjaan ini disebut “panirat”. Sirat adalah hiasan pengikat rambu ulos. Biasanya dibentuk dengan motif gorga.

Cendrawasih



Indonesia is very rich in the diversity of birds in the region. One of the most beautiful birds, the birds of paradise, is Cendrawasih (Paradisaea raggiana). Nowadays, this kind of beautiful bird is about facing its extinction. Why why why? People keep hunting them. Why again? Ough, this is a money talk.
Unfortunately, the birds have been listed as endangered and trapping. The export are illegal, but still, all species of this bird are still being traded illegally on the black market.










“Burung Cendrawasih”, is the Indonesian name of this bird. We can easily recognize them, of course! They are very different with another species. Well, they have such rare and beautiful plumage. Burung Cendrawasih size is about 13 inches in length (33 cm). They fly slowly, but they have a graceful appearance.

 Buah Merah

Traditionally, Papua people had consumed buah merah, either those who live in shore or mountain area. Other than as food source, they had used buah merah as food natural color and craft industry materials. Traditional people also recognized buah merah as medicine, but only to cure intestinal worm, skin disease, and to prevent blindness. In addition, they also recognized buah merah to increase energy.


Even though with no single piece of cloth covered up their body, the people were able to survive living at a very cool temperature circumstance -20ºC- even at night. Women who consumed buah merah oil will recover soon after delivered baby. A mother who suckled baby traditionally had to consume buah merah oil to increase quality of mother’s milk.



Even the Papua people have consumed buah merah since long time a go, until year 2000 no single of Papua people realized that buah merah oil is not only to cure intestinal worm, skin disease, and to increase energy. In fact, buah merah oil is able to cure degenerative diseases such as cancer, tumor, hearth, diabetes, cholesterol, hypertension, and stroke diseases. Furthermore, accompanied with consuming animal protein, buah merah oil is proven to slow down and kill HIV/AIDS virus.
They consumed buah merah mixed with vegetable, sago, sweet potato/cassava and meat. They used buah merah oil to preserve food like sago and meat. Meat that was poured with buah merah oil was still consumable until 1 month and sago which was poured with buah merah oil still consumable up to 1-2 years. Buah Merah also used to produce sauce and oil. Food would be more delicious and good smell if the food was poured with buah merah oil.
Examination also found that buah merah could be processed to become good natural color source for food, industrial material and cosmetic.
The people also used buah merah as craft industry material. Leaves, bark, and root of buah merah plants could be used as fastener, seat base, and bed. In addition, the old leaf of buah merah plant was plaited become mat, while the young leaf used as substitute for cigarette pack.

Here is a gallery of Ramayana's wayang.



Visiting Serangan village site makes you admire the greatness of the keris, traditional weapons that at the same time, function as handicrafts that the world has acknowledged them as one of the greatest cultural products. You can see the activities of the keris-carvers; a very important profession in the keris making but it is now overseen since people too admire the empu or the keris-smiths.

You can reach Serangan village from the Great Post Office cross road by heading westwards or you turn right if you are from Malioboro street. You will come to this village after passing by 2 traffic lights and you turn left to an alley behind Serangan terminal complex.

If you come to the houses of the keris-carvers, you will see directly the process of decorating the keris with carvings and various accessories. Decorating The process usually begins with the melting Decorating raw materials, either silver or gold. Then, the melted material is plated to the surface of the keris, and is carved according to the expected motifs.

In order to make the kris border while being carved, asphalt that is Burnt humor is used as the base holders to make the kris sticks to it firmly. This firm holders is needed since the process of carving or Decorating can take until 2 weeks time. The carving is done in a unique way by using very traditional equipments, namely a hammer and various shapes of carving Nails..

The carvers usually decorate kris decoration with motifs that were developed during the triumphant Kingdom of the Javanese, from Majapahit to Mataram. Flower motifs are often used to symbolize the triumphant Kingdom of the long dragon motif is used to symbolize the power to extend the Colony areas. By far, there are no new motifs innovated by the carvers.

In addition to using very simple instruments, the process of carving the keris is not started by drawings pattern on the surface kris. The carvers only look at the sketches drawn on the papers. This is another exceptional carving of this process because there is no room for faults to occur during the process. Once a Carver makes a mistake, the valuable kris may become meaningless.

In addition to observing the carving process, you can also order the keris with certain decorations as you like. If you want it, you can also bring your keris to be decorated. In order to get good quality of the decoration, you should also pay Equal value. For a fine golden keris, it costs you at least 10 million Indonesian Rupiah.

Pulau Flores adalah pulau utama di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Ia dikelilingi oleh puluhan pulau-pulau kecil dari ujung barat hingga ujung timur.

Pulau Flores didiami oleh hampir tiga puluh suku kecil dan besar. Setiap suku mempunyai bahasa daerah dan dialeknya masing-masing yang sangat sulit diucapkan dan dipelajari bagi para pendatang, meski bertahun-tahun telah menetap.

Diantara beberapa suku-suku dominan, di bagian barat pulau menyebar orang Manggarai, di bagian tengah tinggal orang Ngada, Riung dan Nage Keo, sedangkan di bagian timur berdiam orang Ende. Terus ke timur menetap orang Lio, Sikka dan Larantuka. Sejak negeri ini merdeka, masing-masing suku yang awalnya merupakan kerajaan-kerajaan lokal itu membentuk wilayahnya menjadi pemerintahan kabupaten. Karena itu, tiap-tiap kabupaten di Flores memiliki bahasa daerah dan tradisinya masing-masing yang tak sama satu dengan lainnya.

Tak hanya itu, mayoritas masing-masing penduduk di tiap kabupaten pun memeluk agama berbeda. Suku Ngada, Riung, Naga Keo adalah mayoritas pemeluk Katolik Ortodoks. Masyarakat Ende yang pada masa Portugis hingga Belanda mendirikan Kerajaan Ende, merupakan mayoritas muslim. Sementara suku Lio, Sikka hingga Larantuka umumnya pemeluk Protestan dan Katolik.

Meski berbeda suku, bahasa daerah, tradisi bahkan agama, namun semua suku, semua wilayah, semua daerah di Flores mewarisi satu tradisi yang sama, yaitu, tradisi tenun ikat.


Kesamaan tenun ikat semua suku di Flores ditemukan pada kesamaan bahan-bahan, teknik membuat benang, teknik menenun, teknik meracik warna dan alat pembuat. Perbedaannya hanya terdapat pada variasi motif, warna dan ragam hias.

Karena itu, pada umumnya kain tenun ikat Flores yang dibuat oleh kaum wanita berbahan dasar kapas yang dipilin menjadi benang oleh penenunnya sendiri, berbenang kasar, pewarnaan benang terbuat dari racikan beberapa jenis tumbuhan khas Flores, seperti mengkudu, tarum, zopha, kemiri, ndongu, buah usuk dan lain–lain.

Motif kain tenun tiap-tiap suku di Flores berbeda dengan kekhasannya dan ragamnya masing-masing. Teknik pembuatan motif kain tenun dilakukan dengan mengikat benang-benang lungsi. Pekerjaan ini dapat berlangsung selama dua hingga tiga purnama.

Seringkali pencelupan benang yang dipilin dari kapas dilakukan satu-persatu untuk setiap bakal kain sarung, meskipun kadang-kadang juga dilakukan sekaligus untuk beberapa buah kain sarung.

Ketika kerajaan-kerajaan lokal di Flores masih ada, sejumlah kelompok wanita bekerja khusus sebagai pembuat kain tenun untuk kebutuhan kalangan raja-raja di istana. Jika dahulu ada pembedaan pakaian adat berdasarkan status sosial, sekarang tidak lagi. Kini kain tenun ikat Flores dibuat untuk dijual di pasar, dipakai sehari-hari dan untuk upacara adat.

Semua kain tenun ikat Flores harus ditenun dengan alat tenun yang sangat tradisonal, dililit di pinggang wanita penenun, melekat tak terpisahkan.

Kapas yang telah dipilin menjadi benang oleh sang wanita penenun pun ditenun dua hingga tiga purnama saban hari menggunakan alat tenun sangat tradisional yang terdiri dari konggo, kape, fia, phoku dan sippe.

Alat-alat tenun sangat tradisional yang terbuat dari kayu dan bambu itu, berpadu melilit pinggang wanita penenun dari mentari setinggi tombak hingga sore menjelang.

Tiap gerakan dua tangan terampilnya memadukan alat-alat tenun, menghadirkan alunan sentakan menggoda, tercipta nada yang seakan melafazkan jeritan kehidupan.

Meski terdapat kesamaan dalam bahan-bahan, teknik membuat benang, alat tenun, teknik menenun dan meracik warna, namun tiap wilayah di Flores mewarisi motif tenun yang beragam.

Misalkan di daerah Ngada, terdapat motif tenun songket kuning emas sebagai pengganti songket benang emas. Tetapi tak seperti songket Palembang, kain tenun songket Ngada, Flores, yang ditenun dengan benang kapas ini mempunyai banyak persamaan dengan kain songket Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, yang tanpa benang emas dan perak layaknya songket Palembang.


Motif lain yang kerap dikreasikan masyarakat Ngada adalah motif dengan dominasi warna-warna gelap, antara lain, dengan kombinasi warna biru dan cokelat dengan garis-garis sederhana.


Sedangkan suku Nage Keo menghasilkan tenunan yang menampilkan motif bintik-bintik kecil dari teknik ikat pembentuk motif flora yang dikombinasikan dengan jalur-jalur kecil berwarna putih, merah dan biru.

Di kalangan masyarakat Sikka, motif kain tenun tak terlalu semarak. Umumnya didominasi warna hitam, biru tua atau biru hitam, dihiasi dengan jalur-jalur biru muda atau biru toska.

Selain itu, ada hal lain yang khas dalam pakaian adat Sikka, kain tenun warna hitam atau gelap hanya dipakai oleh mereka yang telah berumur, sedangkan kaum muda memakai kain tenun berwarna terang.

Kain tenun motif masyarakat Sikka bertolak belakang dengan motif tenun masyarakat Lio. Kain tenun ikat Lio, Flores tengah, bermotif ceplok seperti jelamprang pada kain batik. Selain motif ceplok, juga dihiasi motif daun, dahan, fauna dan ranting.

Kain tenun ikat dari kawasan ini dibuat lebih halus, lebih semarak ragam hiasnya dari manik dan kerang. Kain tenun ikat Lio dibuat dengan latar warna cokelat tua, diberi ragam hias berwarna cokelat muda campur kuning bergaris geometris dalam bentuk flora dan fauna.

Sementara kain tenun ikat Flores dari kawasan Ende, pesisir selatan Flores, menurut keterangan nenek dan beberapa sepupu perempuan saya yang memiliki keahlian menenun kain ikat, dikatakan bahwa motif kain tenun Ende, Flores, dipengaruhi oleh motif Eropa. Alasan mereka, Kerajaan Ende yang pendiriannya terkait perang di Gowa, Sulawesi, sejak masa Portugis berinteraksi dengan bangsa Eropa.

Kain tenun ikat Ende lebih banyak menggunakan warna dasar hitam, yang dipadu dengan cokelat dan merah, dengan menggunakan ragam hias motif ala Eropa.

Salah satu ragam hias kain tenun Ende, Flores, yang berbeda dengan kain daerah-daerah lain adalah hanya menggunakan satu motif pada bidang tengah-tengah kain. Motif tersebut diulang-ulang dan baru berhenti pada jalur pembatas bermotif sulur di kedua ujung kain yang menyerupai tumpal dan diberi hiasan rumbai-rumbai.

Adapun motif kain tenun Ngada, Flores, mempunyai keunikan di bagian kepala berwarna biru tua dan bagian badan kain di kiri dan kanan berwarna merah. Motif ragam hiasnya terletak pada bagian tengah kain. Hiasan pinggir atas dan bawah berupa tumpal bentuk daun.


Deskripsi sederhana ini semoga mampu menggambarkan ragam tenun ikat Flores yang hingga kini masih dipelajari dan dilestarikan oleh masyarakat setempat.

Warisan ini terus dilestarikan meski hingga hari ini tak terasa kehadiran dukungan pemerintah sehingga para penenunnya tetap terbelit kemiskinan dan belum mampu bersaing dalam dunia usaha.

Terselip kekhawatiran, akankan di masa depan tradisi warisan nenek moyang ini masih tetap dipelajari dan dilestarikan, toh dari sisi ekonomi tak mampu bersaing dengan kain-kain modern pabrikan.

Saya berharap, suatu saat nanti para penenun dari Pulau Bunga ini difasilitasi pemerintah dan dunia perbankan agar mampu menjadi pelaku-pelaku industri dan perajin kecil-menengah, seraya mampu menghidupi keluarganya dari profesi mulia ini, layaknya saudara-saudara mereka di Pulau Jawa yang melestarikan batik.


1 Suro Ceremony@Solo Palace


The atmosphere before the 1 suro procession begins at  Solo palace


Bule buffalo are considered sacred is just out the Palace gates


The group who carried spears palace

Batik@Kampung Laweyan


KAMPUNG Laweyan . A traditional village located on the south side of the city of Solo, Central Java. This village was special not simply because it is old, exotic villages, but also for storing a long trail in Solo batik industry. In the 19th century, these villages have experienced the heyday of the village of native batik merchant. The area also stands Syarekat Islamic Trade, the first trade association founded by Samanhoedi and native batik merchants, in 1912.
From the past until now, almost the entire population of these villages are living as producers and traders as well as batik.





Public Transport@Solo 

Becak
 
Speeding its passengers home before an impending tropical downpour, these are the beautiful sensuous lines of the 'Becaks' of Jogjakarta, Central Java. With a small petite hood, fulsome rounded fenders, their proportions rather remind me of a curvaceous large-hipped woman.
These machines would otherwise glide silently past but for a piece of gut stretched tight beneath their carriage. It produces a distinctive pretty modulated buzzing sound to alert pedestrians of the Becak's presence. There is also usually an old bolt tied to the handle bar with an elastic band. The driver uses this device to demand a clear passage in crowded conditions. The resulting metallic 'clackety, clack clack' sound resonates around the frame of the Becak. The Becaks of Solo use large gongs to forge their way in traffic.
There are many different designs of Becak in Java which vary from region to region. Some of them are elaborately painted works of art on wheels.

Dokar


The Dokar (horse and carriage) is a form of transportation tourists to see much anymore in Solo areas.

Traditional Kuliner@my City

wedangan

Wedangan can be found almost in every corner of the city of Solo, because it Wedangan is one where people socialize in Solo. On the table, which was wrapped in rice are small and the various side dishes are served and gave freedom to the viewer to pick at will. Side dishes which are available on the table is usually clam satay, kikil satay, satay quail eggs, tahu and fried tempe bacem. But you can also order a side dish to be used as fried chicken and fish. In a place like this Wedangan everyone get along.

serabi

Serabi  Solo is a lighter-style foods Solo, Central Java. This food is made from rice flour mixed with coconut milk and fried over charcoal or similar  Pannekoek. Srabi is typical of Solo snack made from coconut milk mixed with a little flour, which makes it taste salty. Also given the usual sprinkling of a piece of banana, jackfruit or even meses and cheese if liked. Famous Srabi from Notokusuman area, which is often abbreviated to Notosuman (Srabi Notosuman).
 



The History of Batik
Batik is an artistic technique of dyeing a cloth by using a wax-resist method. Wax-resist method is the most traditional way to dye or color a cloth. This method prevents the dye from spreading on the entire cloth and so as to give a beautiful pattern or design on the cloth. Batik is regarded as the cultural and traditional art in Indonesia. The traditional colors used for Batik are deep shades of indigo, dark brown and white which symbolize the three main Hindu Gods. Javanese Batik, from Jogjakarta with some particular meaning is found in countries of West Africa like Nigeria, Ghana, Cameroon, Uganda and Mali with the true Javanese idea, and in Asia like India, Sri Lanka, Bangladesh, Iran, Philippines, Malaysia, Thailand and Burma.
Long ago, in the ancient period around 1500 years ago, the dye resist designs on the cloth were found in Egypt and the Middle East along with the two major countries, samples are also found in Turkey, India, China, Japan and West Africa around hundreds of years ago. In the present date, Batik is highly developed form of art found on the island of Java, Indonesia. In the 17th century, the fabrics were highly decorated with Dutch transcripts, by it is often believed that complicated designs in Java were possible when the finely woven imported cloth that was from India to Indonesia in 1800s and then from Europe in 1815. The similar Batik designs that were done on textiles earlier are noticed on stone statues that are beautifully sculptured on the walls of Javanese temples like Prambanan AD 800, but then it is not yet confirmed that the cloth was Batik. These designs could be produced by weaving techniques too. However, by the 19th century became greatly developed form of art in the cultural life of the Javanese.
There were some specific Batik designs worn by the Javanese royalty and thus it was felt that Batik was originally meant to be worn by the monarchs of the royal Sultan’s palace. The Princesses and royal women might have encouraged the finest designs of Batik that reflect the traditional patters. Well, the untidy dyeing work with consequent waxing was done by the court artisans who worked under their direction.
Known as the great fans of art, Javanese royalty supported the development of traditional art form like silver embellishment, leather puppets known as wayang kulit in java and gamelan orchestra. The Javanese dalang (puppeteer) was a major source for the Batik patterns too. Wayang puppets are made from goat skin which was treated and colored to build false impression on the puppet, were usually sold to women who could get the necessary idea of batik designs from these puppets. The used charcoal and blew it through the holes that describe the design of puppet clothing, so that they could copy complicated patterns onto the cloth.
However, some scholars deny the fact that Batik was originally meant for royalty as they feel that it is meant for the rakyat, the people too. It was considered as a significant job for young women of the Central Java, revealing the fact that they are capable enough to handle a canting (an instrument shaped like pen to apply wax to the cloth) with enough tact and skill just like skills used in cookery or other household arts.

Lurik PEDAN


     Woven Lurik PEDAN is perhaps typical of one of the many works of the inherited tradition still trying to exist until now. It presence gives the wealth of cultural diversity nuances Archipelago. Through the process of which is still very traditional, using manual wooden loom, must now faced with the technological advances loom machine, which is of course more practical, rapid, and massive. Woven Lurik PEDAN also becoming marginalized.
     But apparently the company owned by Mr. Rachmad loom which is still managed from the start-up of about 60 years-it's not going to break the chains of production, which consistently rely on values grounded in tradition and local wisdom.
     In the midst of obstacles that melikupinya, managers hope the companies can continue to be developed by the child-grandchildren later in life. And a creative process, both in the diversity of designs, colors, and how the sales started to be developed, without having to change the means of production.

Older Posts Home

MONICATOYS on Facebook
PENGIRIMAN
 
LURIK PEDAN