Blogger Template by Blogcrowds

We produce and sell Lurik, Craft of Lurik, Ikat and other crafts
Welcome to blog of lurik-pedan. Here we provide a variety of Pedan's weaving products, already well known throughout the archipelago and worlwide. In addition to producing fabrics with traditional motifs, we also produce ethnic motifs from different areas but we still maintain the Pedan typical. weaving centers in the Pedan Village, about 10 kilometers from the city of Klaten. District of Klaten make Pedan as places to fabrics dan fashion tour.
Bermimpilah besar karena Rajamu besar...Anak Kerajaan tidak takut dengan kata orang, tetapi melekatkan hatinya pada Sang Raja...Bukan engkau yang hebat, tetapi Rajamu yang hebat
Kami melayani pembuatan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM/Traditional Loom) untuk keperluan pengrajin, pelatihan, pameran, instansi dll.
We serve the manufacture of Traditional Loom machinery for craftsmen, training, exhibitions,institutions,etc.
Showing posts with label Daily Articles. Show all posts
Showing posts with label Daily Articles. Show all posts

Sekeping uang koin mungkin tak berarti. Namun, kumpulan jutaan koin
bisa membentuk benteng kuat melindungi si lemah. Recehan yang sering dianggap tak berarti menjadi meriam pembobol dominasi penindas, hasil sistem yang korup. Lewat koin, rakyat unjuk gigi meraih keadilan. neli triana dan Sarie Febriane
Sejak pukul 10.00 tadi saya di sini. Uang tidak punya, jadi membantu menghitung saja. Semoga kasus Prita (Mulyasari) selesai dengan adil. Jangan sampai seperti anak saya yang akhirnya meninggal,” kata Sabarudin (60), sukarelawan penghitung koin di Posko Wetiga, Jalan Langsat I Nomor 3A, Kramat Pela, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Selasa (15/12). Sabarudin berasal dari Lampung dan sedang berada di Jakarta untuk berobat. Dua sampai tiga tahun lalu ia pernah terlunta-lunta di
Jakarta saat mencari pengobatan bagi anaknya yang sakit gagal ginjal. Untuk mengurus asuransi kesehatan bagi warga miskin, Sabarudin harus bolak-balik Lampung-Jakarta. Prosedur yang dirasa menyulitkan itu berbuah keterlambatan pelayanan kesehatan dan berakhir fatal. Bagi Sabarudin, berada di Posko Wetiga membuatnya bisa membalas ketidakadilan yang pernah ia rasakan. Rasa senasib juga ditunjukkan Yos Sudarso (71). Laki-laki yang giat membantu menghitung koin Prita sejak Senin ini pada 1960-an dikeluarkan dari kantornya. Alasannya sepele. Ia melayangkan surat
pembaca berisi protes kepada atasannya yang berjanji mengucurkan kredit rumah, tetapi tidak dipenuhi. Kisah Yos yang dimuat di media massa mengundang simpati masyarakat kala itu. Kalau Prita mendapat koin, Yos mendapat kiriman uang melalui wesel pos. Sabarudin dan Yos adalah bagian dari sedikitnya 30 sukarelawan
penghitung koin untuk Prita di Posko Wetiga. Hingga Selasa pukul 20.40, sumbangan koin Prita mencapai Rp 482.101.475. Koin sebagian besar berupa pecahan Rp 500 berdiameter 2,7 sentimeter, berat 3,25 gram, dan tebal 2,5 milimeter, serta koin Rp
100 berdiameter 2,3 sentimeter, berat 1,88 gram, dan tebal 2 milimeter. Jika disusun bertumpuk, beratnya mencapai 10 ton lebih dengan ketinggian berpuluh kali tinggi Tugu Monas.

Gerakan tanpa pemimpin
Dalam daftar penyumbang koin di Pos Wetiga tercatat penyumbang datang dari seantero negeri dan warga negara Indonesia di luar negeri. Sementara penyumbang koin dan sukarelawan penghitung koin berasal dari bermacam kalangan. Sejak Senin lalu, di Posko Wetiga terlihat penyanyi Indah Sita Nursanti, perwakilan dari instansi Pemerintahan, karyawan sejumlah perusahaan swasta, politikus, remaja, hingga Bachrudin, penjual es keliling. Mereka tidak canggung duduk membaur bersama, di karpet merah yang tergelar di pelataran rumah yang menjadi pos Koin Peduli Prita itu. Inilah sebuah gerakan massa yang tak punya pemimpin, tak perlu komando, dan tak perlu panitia khusus. Namun, gerakan itu berjalan mulus, tanpa konfrontasi, damai, penuh keikhlasan, bersemangat, dan gaungnya membahana. ”Dari gerakan ini, terbukti bangsa kita masih punya rasa solidaritas yang tinggi, tidak individualistis. Ketika pemerintah dan wakil rakyat seperti tak ada, rakyat bisa bergerak sendiri,” kata Yusro MS (49), sukarelawan. Tak hanya sumbangan koin dan tenaga hitung, beragam bentuk bantuan lain juga datang, mulai dari makanan dan minuman untuk sukarelawan, perlengkapan mengemas koin, hingga gel pembersih tangan. Pengiriman paket koin dari daerah juga digratiskan oleh perusahaan jasa kurir.
Handaru, salah seorang sukarelawan, mengatakan, solidaritas gerakan bahkan akan diwujudkan dalam bentuk konser musik. Acara itu direncanakan Minggu (20/12), bertepatan dengan Hari Kesetiakawanan Nasional, di Hard Rock Cafe, Plaza eX, Jakarta Pusat. Sekitar 20 musisi sudah bersedia tampil. ”Prita tentu diundang karena kami akan menyerahkan secara simbolik sumbangan koin untuknya,” kata Handaru.

Mencari bank
Yusro mengatakan, satu hal yang belum terpecahkan saat ini adalah menemukan bank yang bersedia menerima jutaan koin itu untuk dimasukkan dalam rekening atas nama Prita. Penggunaan dana itu diserahkan sepenuhnya kepada Prita.
Kasus Prita Mulyasari (32) merebut perhatian masyarakat dan memicu rakyat tergerak membelanya. Prita digugat dan didakwa kasus pencemaran nama baik Rumah Sakit Omni Internasional Alam Sutera, Serpong, Tangerang Selatan, karena mengirimkan e-mail ke beberapa temannya, yang berisi keluhan pelayanan rumah sakit itu. Meski Omni telah
mencabut gugatan perdata, perkara pidananya masih dihadapi Prita. ”Saya tak kenal Prita. Ini bukan masalah pribadi dia, tetapi menyangkut masalah orang kecil. Barangkali, kalau tidak ada gerakan massal begini, sulit ada keadilan murni bagi orang kecil,” kata Lina, sukarelawan.
Gerakan ini menyimpan pesan bagi penguasa dan pemodal: ketika rasa keadilan terusik, rakyat selalu punya kekuatan.

Kalaupun masih ada siswa sekolah mode bergengsi di Jakarta yang menyambanginya, hal itu hanyalah menjadi pelipur lara. Begitu pula, ketika beberapa motif kainnya dibeli orang Amerika lalu ditambahkan label Ocean Pacific sebelum beredar di butik-butik mahal di kota-kota besar.
Kini, ia tinggal menjadi satu-satunya penjaga agar lurik Pedan tak segera menjadi catatan sejarah.

Tahun 1950-an adalah saat-saat menyenangkan bagi pemuda Rachmad. Lahir dari keluarga pengusaha tenun, ia termasuk sedikit dari orang-orang beruntung karena bisa mengenyam pendidikan di Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Apalagi, ia hanya berasal dari Pedan, sebuah kota kecamatan di pedalaman Klaten, sekitar 25 kilometer di selatan Surakarta.
Seperti umumnya pemuda kelas menengah, dia juga pernah dijangkiti ‘penyakit’ bosan sekolah sehingga ia keluar dari UI. Ia sempat pindah ke Fakultas Ekonomi Universitas Nasional, meski hanya dijalaninya selama tiga tahun. Di jurusan baru itulah, ia menemukan pilihan hidup baru. Ia mempraktekkan pengetahuan yang diperolehnya untuk mengembangkan usaha tenun lurik Atmo Prawiro, yang tak lain ayah kandungnya sendiri. Mulailah ia mencermati gaya hidup orang kota, seperti mode pakaian para tokoh dan kaum kaya juga jenis bahan yang mereka kenakan.

“Saya pernah membeli setelan jas terbuat dari wool untuk saya jiplak,” ujar Rachmad terkekeh, mengenang peristiwa tahun 1954 itu. Pulang ke Pedan, ia sudah memperoleh rumus jumlah benang yang harus dianyamnya dengan menggunakan mesin ayahnya. Singkat cerita, jas asli yang terbuat dari wool dengan motif kotak-kotak hitam-putih itu berhasil dibuatkan tiruannya. “Supaya tak melanggar hak cipta, saya menambahkan jumlah benang sehingga motifnya menjadi lebih besar dibanding aslinya,’ tuturnya. Lalu, jadilah setelah jas berbahan katun. Sekilas, kedua jenis bahan itu sulit dibedakan secara visual.
Di Pedan, ‘industri’ tenun lurik manual kini tersisa dua. Satu milik Rachmad yang mempekerjakan 70 orang -kebanyakan berusia lanjut, dan Ibu Diro yang skalanya lebih kecil. Sementara usaha Ibu Diro terseok-seok karena masih bertahan dengan jenis dan motif tradisional -seperti selendang dan jarik-, yang mulai kurang diminati, Rachmad masih menyukai eksperimen.
Saya teringat pernyataan Rachmad ketika saya menemuinya, sepuluh tahun lalu. Ketika itu, ia menyatakan sanggup membuat kain dengan bahan rambut. “Saya yakin bisa mengerjakannya,” tuturnya. Hiperbolis? Mungkin. Tapi, sesumbar Rachmad bukan bualan semata. Ia pernah menenun berbahan eceng gondok atau jenis-jenis tumbuh-tumbuhan yang biasa dipakai untuk bahan tikar atau karung goni. Eksperiman itu bahkan berbuah manis. Pada pertengahan 1980-an, ia keliling Bali dan menjajakan beberapa contoh barang produksinya, yang ketika itu dia buat dengan zat pewarna alami seperti dari dedaunan atau kulit buah mahoni. “Di Bali, saya bertemu orang Jerman. Dia langsung memesan dalam jumlah besar,” kenangnya.
Boleh jadi karena kampanye lingkungan sangat kuat di negeri-negrei barat, produk Rachmad cepat ludes di pasar luar negeri. “Yang saya dengar, kain buatan saya dijual seharga US$ 500 per meter,” ujarnya. Padahal, kepada orang Jerman itu, Rachmad hanya menawarkan harga Rp 5.000 per meter. Meski tahu harga jualnya, Rachmad tak menyesal atau kemaruk meraup untung besar. “Yang penting, produksi kami lancar,” imbuhnya.
Dan, benar. Dari perkenalan itulah, omzet usahanya bisa mencapai Rp 100 juta hingga Rp 120 juta per bulan. Padahal, masa itu merupakan saat paceklik bagi industri tenun. “Akibat banyaknya mesin-mesin tekstil yang menyerbu Indonesia, saya sempat beralih pekerjaan sebagai pemborong padi di Karanganyar. Usaha kami collapse,” tuturnya. Perkenalannya dengan pembeli asal Jerman itu, jelas menjadi sebuah berkah tak ternilai bagi Rachmad, yang pada akhir 1960-an sudah sanggup membeli sepeda motor BMW seri R-27.
Kian lama, kain-kain produksi Rachmad kian diminati konsumen. Pesanan mengalir bukan hanya dari Jerman, namun juga Jepang, Amerika dan beberapa negara Eropa lainnya. Beberapa pemesan, bahkan sangat percaya kepada kepiawaian Rachmad meramu benang-benang buatan dengan pewarna hasil eksperimennya. Kadang-kadang, pemesan hanya mengirim motif kasar melalui faksimili dengan sejumlah catatan dan keterangan yang dikehendakinya. Usahanya pun kerap menjadi ajang observasi atau praktek lapangan mahasiswa jurusan tekstil atau desain interior dari beberapa perguruan tinggi ternama seperti Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS) atau Institut Teknologi Bandung (ITB).
Malah, tak jarang mahasiwa datang hanya berbekal uang. “Mereka cuma mempresentasikan keinginannya dan kami yang membuatnya. Mahasiswa tinggal pulang membawa hasil untuk dipresentasikan dalam ujian tugas akhir, lalu jadilah mereka sebagai sarjana,” ujarnya terkekeh.
Tapi, itu hanyalah sepenggal kisah manis masa lalu. Sebab, kini tenun lurik sudah sekarat, digerus kecenderungan konsumen yang kian pragmatis. Bahan-bahan katun, wool, linen atau polyester keluaran pabrik-pabrik modern, jelas memiliki karakteristik yang berbeda dengan kain yang dibuat dengan mesin tenun manual milik Rachmad. Meski menggunakan jenis benang yang sama, hasilnya akan sangat nyata bedanya.
Satu hal yang masih menjadi semangat berkaryanya, hanyalah keinginannya tetap mempertahankan keberadaan tenun lurik Pedan. Kalaupun masih ada siswa sekolah mode bergengsi di Jakarta yang menyambanginya, hal itu hanyalah menjadi pelipur lara. Begitu pula, ketika beberapa motif kainnya dibeli orang Amerika lalu ditambahkan label Ocean Pacific sebelum beredar di butik-butik mahal di kota-kota besar.
Kini, ia tinggal menjadi satu-satunya penjaga agar lurik Pedan tak segera menjadi catatan sejarah. Satu matanya sudah rusak, dan satu lagi terkena katarak akut. Ia menolak dilakukan operasi. “Kalau gagal, dan saya menjadi buta, siapa yang akan mengawasi tenun saya?” ujarnya. Maklum, dari enam anaknya, hanya satu yang tertarik meneruskan usahanya, Arif Purnawan.

Kain lurik yang pernah sangat digemari pada tahun 1980-an kini mulai ditinggalkan generasi muda. Bahkan, kain lurik dengan kualitas bagus sudah jarang ditemukan.

Menurut kepercayaan, setiap motif kain lurik memiliki fungsi sendiri. Terutama di dalam masyarakat Jawa seperti di daerah Probolinggo, selendang lurik dengan nama motif "Tulak watu" dipergunakan untuk upacara tujuh bulanan atau dalam masyrakat Jawa biasa disebut mitoni. Selain itu kain lurik motif ini biasa juga digunakan untuk upacara meruwat atau Ngruwat.

Kain lurik kini banyak digunakan sebagai seragam. Menurut salah satu pengusaha kain batik dan lurik, Nanik Darmawan, motif lurik lebih simple ketimbang batik. Di tengah trend kain batik yang kini tengah digemari semua kalangan, kain lurik seolah kurang banyak diminati. Untuk itu, Nanik mencoba membuat sebuah tren untuk kain lurik ini.

The first Indonesian youth congress was held in Batavia, capital of the then-Dutch East Indies in 1926, but produced no formal decisions but did promote the idea of a united Indonesia. In October 1928, the second Indonesian youth congress was held at three different locations. In the first session, the hope was expressed that the congress would inspire the feeling of unity. The second session saw discussions about educational issues. In the third and final session, held at Jalan Kramat Raya No, 126, on October 28 participants heard the future Indonesian national anthem Indonesia Raya by Wage Rudolf Supratman. The congress closed with a reading of the youth pledge


The pledge

In Indonesian, with the original spelling, the pledge reads


Pertama
Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia.
Kedoea
Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia.
Ketiga
Kami poetera dan poeteri Indonesia, mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.
In Indonesian, with the new spelling (Ejaan Yang Disempurnakan), the pledge reads
Pertama
Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia.
Kedua
Kami putra dan putri Indonesia, mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia.
Ketiga
Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung tinggi bahasa persatuan, bahasa Indonesia.
In English:
Firstly
We the sons and daughters of Indonesia, acknowledge one motherland, Indonesia.
Secondly
We the sons and daughters of Indonesia, acknowledge one nation, the nation of Indonesia.
Thirdly
We the sons and daughters of Indonesia, respect the language of unity, Indonesian.

Kain Tapis adalah pakaian wanita suku Lampung yang berbentuk kain sarung terbuat dari tenun benang kapas dengan motif atau hiasan bahan sugi, benang perak atau benang emas dengan sistim sulam (Lampung; "Cucuk").

Dengan demikian yang dimaksud dengan Tapis Lampung adalah hasil tenun benang kapas dengan motif, benang perak atau benang emas dan menjadi pakaian khas suku Lampung. Jenis tenun ini biasanya digunakan pada bagian pinggang ke bawah berbentuk sarung yang terbuat dari benang kapas dengan motif seperti motif alam, flora dan fauna yang disulam dengan benang emas dan benang perak.

Tapis Lampung termasuk kerajian tradisional karena peralatan yang digunakan dalam membuat kain dasar dan motif-motif hiasnya masih sederhana dan dikerjakan oleh pengerajin. Kerajinan ini dibuat oleh wanita, baik ibu rumah tangga maupun gadis-gadis (muli-muli) yang pada mulanya untuk mengisi waktu senggang dengan tujuan untuk memenuhi tuntutan adat istiadat yang dianggap sakral. Kain Tapis saat ini diproduksi oleh pengrajin dengan ragam hias yang bermacam-macam sebagai barang komoditi yang memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi.
[sunting] Sejarah Kain Tapis Lampung

Kain Tapis merupakan salah satu jenis kerajinan tradisional masyarakat Lampung dalam menyelaraskan kehidupannya baik terhadap lingkungannya maupun Sang Pencipta Alam Semesta. Karena itu munculnya kain Tapis ini ditempuh melalui tahap-tahap waktu yang mengarah kepada kesempurnaan teknik tenunnya, maupun cara-cara memberikan ragam hias yang sesuai dengan perkembangan kebudayaan masyarakat.

Menurut Van der Hoop disebutkan bahwa orang lampung telah menenun kain Brokat yang disebut Nampan (Tampan) dan kain Pelepai sejak abad II masehi. Motif kain ini ialah kait dan konci (Key and Rhomboid shape), pohon hayat dan bangunan yang berisikan roh manusia yang telah meninggal. Juga terdapat motif binatang, matahari, bulan serta bunga melati. Dikenal juga tenun kain tapis yang bertingkat, disulam dengan benang sutera putih yang disebut Kain Tapis Inuh.

Hiasan-hiasan yang terdapat pada kain tenun Lampung juga memiliki unsur-unsur yang sama dengan ragam hias di daerah lain. Hal ini terlihat dari unsur-unsur pengaruh taradisi Neolithikum yang memang banyak ditemukan di Indonesia.

Masuknya agama Islam di Lampung, ternyata juga memperkaya perkembangan kerajinan tapis ini. Walaupun unsur baru tersebut telah berpengaruh, unsur lama tetap dipertahankan.

Adanya komunikasi dan lalu lintas antar kepulauan Indonesia sangat memungkinkan penduduknya mengembangkan suatu jaringan maritim. Dunia kemaritiman atau disebut dengan zaman bahari sudah mulai berkembang sejak zaman kerajaan Hindu Indonesia dan mencapai kejayaan pada masa pertumbuhan dan perkembangan kerajaan-kerajaan islam antara tahun 1500 - 1700 .

Bermula dari latar belakang sejarah ini, imajinasi dan kreasi seniman pencipta jelas mempengaruhi hasil ciptaan yang mengambil ide-ide pada kehidupan sehari-hari yang berlangsung disekitar lingkungan seniman dimana ia tinggal. Penggunaan transportasi pelayaran saat itu dan alam lingkungan laut telah memberi ide penggunaan motif hias pada kain kapal. Ragam motif kapal pada kain kapal menunjukkan adanya keragaman bentuk dan konstruksi kapal yang digunakan.
[sunting] Jenis Tapis Lampung Menurut Asal pemakainya

Beberapa jenis kain tapis yang umum digunakan masyarakat Lampung Pepadun dan Lampung Saibatin adalah :

Tapis Lampung dari Pesisir :

* Tapis Inuh
* Tapis Cucuk Andak
* Tapis Semaka
* Tapis Kuning
* Tapis Cukkil
* Tapis Jinggu

Tapis lampung dari Pubian Telu Suku :

* Tapis Jung Sarat
* Tapis Balak
* Tapis Laut Linau
* Tapis Raja Medal
* Tapis Pucuk Rebung
* Tapis Cucuk Handak
* Tapis Tuho
* Tapis Sasap
* Tapis Lawok Silung
* Tapis Lawok Handak

Tapis Lampung dari Sungkai Way Kanan :

* Tapis Jung Sarat
* Tapis Balak
* Tapis Pucuk Rebung
* Tapis Halom/Gabo
* Tapis Kaca
* Tapis Kuning
* Tapis Lawok Halom
* Tapis Tuha
* Tapis Raja Medal
* Tapis Lawok Silung

Tapis Lampung dari Tulang Bawang Mego Pak:

* Tapis Dewosano
* Tapis Limar Sekebar
* Tapis Ratu Tulang Bawang
* Tapis Bintang Perak
* Tapis Limar Tunggal
* Tapis Sasab
* Tapis Kilap Turki
* Tapis Jung Sarat
* Tapis Kaco Mato di Lem
* Tapis Kibang
* Tapis Cukkil
* Tapis Cucuk Sutero

Tapis Lampung dari Abung Siwo Mego :

* Tapis Rajo Tunggal
* Tapis Lawet Andak
* Tapis Lawet Silung
* Tapis Lawet Linau
* Tapis Jung Sarat
* Tapis Raja Medal
* Tapis Nyelem di Laut Timbul di Gunung
* Tapis Cucuk Andak
* Tapis Balak
* Tapis Pucuk Rebung
* Tapis Cucuk Semako
* Tapis Tuho
* Tapis Cucuk Agheng
* Tapis Gajah Mekhem
* Tapis Sasap
* Tapis Kuning
* Tapis Kaco
* Tapis Serdadu Baris

[sunting] Jenis Tapis Lampung Menurut Pemakainnya

Tapis Jung Sarat

Dipakai oleh pengantin wanita pada upacara perkawinan adat. Dapat juga dipakai oleh kelompok isteri kerabat yang lebih tua yang menghadiri upacara mengambil gelar, pengantin serta muli cangget (gadis penari) pada upacara adat. Tapis Raja Tunggal

Dipakai oleh isteri kerabat paling tua (tuho penyimbang) pada upacara perkawinan adat, pengambilan gelar pangeran dan sutan.

Di daerah Abung Lampung Utara dipakai oleh gadis-gadis dalam menghadiri upacara adat.

Tapis Raja Medal

Dipakai oleh kelompok isteri kerabat paling tua (tuho penyimbang) pada upacara adat seperti : mengawinkan anak, pengambilan gelar pangeran dan sutan.

Di daerah Abung Lampung Utara tapis ini digunakan oleh pengantin wanita pada upacara perkawinan adat.

Tapis Laut Andak

Dipakai oleh muli cangget (gadis penari) pada acara adat cangget. Dipakai juga oleh Anak Benulung (isteri adik) sebagai pengiring pada upacara pengambilan gelar sutan serta dipakai juga oleh menantu perempuan pada acara pengambilan gelar sutan.

Tapis Balak

Dipakai oleh kelompok adik perempuan dan kelompok isteri anak seorang yang sedang mengambil gelar pangeran pada upacara pengambilan gelar atau pada upacara mengawinkan anak. Tapis ini dapat juga dipakai oleh muli cangget (gadis penari) pada upacara adat.

Tapis Silung

Dipakai oleh kelompok orang tua yang tergolong kerabat dekat pada upacara adat seperti mengawinkan anak, pengambilan gelar, khitanan dan lain-lain. Dapat juga dipakai pada saat pengarakan pengantin.

Tapis Laut Linau

Dipakai oleh kerabat isteri yang tergolong kerabat jauh dalam menghadiri upacara adat. Dipakai juga oleh para gadis pengiring pengantin pada upacara turun mandi pengantin dan mengambil gelar pangeran serta dikenakan pula oleh gadis penari (muli cangget). Tapis Pucuk Rebung

Tapis ini dipakai oleh kelompok ibu-ibu/para isteri untuk menghadiri upacara adat.

Di daerah Menggala tapis ini disebut juga tapis balak, dipakai oleh wanita pada saat menghadiri upacara adat.

Tapis Cucuk Andak

Dipakai oleh kelompok isteri keluarga penyimbang (kepala adat/suku) yang sudah bergelar sutan dalam menghadiri upacara perkawinan, pengambilan gelar adat.

Di daerah Lampung Utara tapis ini dipakai oleh pengantin wanita dalam upacara perkawinan adat.

Di daerah Abung Lampung Utara tapis ini dipakai oleh ibu-ibu pengiring pengantin pada upacara adat perkawinan. Tapis Limar Sekebar

Tapis ini dipakai oleh kelompok isteri dalam menghadiri pesta adat serta dipakai juga oleh gadis pengiring pengantin dalam upacara adat.

Tapis Cucuk Pinggir

Dipakai oleh kelompok isteri dalam menghadiri pesta adat dan dipakai juga oleh gadis pengiring pengantin pada upacara perkawinan adat.

Tapis Tuho

Tapis ini dipakai oleh seorang isteri yang suaminya sedang mengambil gelar sutan. Dipakai juga oleh kelompok orang tua (mepahao) yang sedang mengambil gelar sutan serta dipakai pula oleh isteri sutan dalam menghadiri upacara pengambilan gelar kerabatnya yang dekat.

Tapis Agheng/Areng

Dipakai oleh kelompok isteri yang sudah mendapat gelar sutan (suaminya) pada upacara pengarakan naik pepadun/pengambilan gelar dan dipakai pula oleh pengantin sebagai pakaian sehari-hari. Tapis Inuh

Kain tapis ini umumnya dipakai pada saat menghadiri upacara-upacara adat. Tapis ini berasal dari daerah Krui, Lampung Barat.

Tapis Dewosano

Di daerah Menggala dan Kota Bumi, kain tapis ini dipakai oleh pengantin wanita pada saat menghadiri upacara adat.

Tapis Kaca

Tapis ini dipakai oleh wanita-wanita dalam menghadiri upacara adat. Bisa juga dipakai oleh wanita pengiring pengantin pada upacara adat. Tapis ini di daerah Pardasuka Lampung Selatan dipakai oleh laki-laki pada saat upacara adat.

Tapis Bintang

Tapis Bintang ini dipakai oleh pengantin wanita pada saat upacara adat.

Tapis Bidak Cukkil

Model kain Tapis ini dipakai oleh laki-laki pada saat menghadiri upacara-upacara adat.

Tapis Bintang Perak

Tapis ini dapat dipakai pada upacara-upacara adat dan berasal dari daerah Menggala, Lampung Utara.
[sunting] Bahan dan Peralatan Tenun Tapis Lampung

Bahan Dasar Tapis Lampung

Kain tapis Lampung yang merupakan kerajinan tenun tradisional masyarakat Lampung ini dibuat dari benang katun dan benang emas. Benang katun adalah benang yang berasal dari bahan kapas dan digunakan sebagai bahan dasar dalam pembuatan kain tapis, sedangkan benang emas dipakai untuk membuat ragam hias pada tapis dengan sistim sulam.

Pada tahun 1950, para pengrajin tapis masih menggunakan bahan hasil pengolahan sendiri, khususnya untuk bahan tenun. Proses pengolahannya menggunakan sistim ikat, sedangkan penggunaan benang emas telah dikenal sejak lama.

Bahan-bahan baku itu antara lain :

Khambak/kapas digunakan untuk membuat benang. Kepompong ulat sutera untuk membuat benang sutera. Pantis/lilin sarang lebah untuk meregangkan benang. Akar serai wangi untuk pengawet benang. Daun sirih untuk membuat warna kain tidak luntur. Buah pinang muda, daun pacar, kulit kayu kejal untuk pewarna merah. Kulit kayu salam, kulit kayu rambutan untuk pewarna hitam. Kulit kayu mahoni atau kalit kayu durian untuk pewarna coklat. Buah deduku atau daun talom untuk pewarna biru. Kunyit dan kapur sirih untuk pewarna kuning.

Pada saat ini bahan-bahan tersebut diatas sudah jarang digunakan lagi, oleh karena pengganti bahan-bahan diatas tersebut sudah banyak diperdagangkan di pasaran. Peralatan Tenun kain Tapis

Proses pembuatan tenun kain tapis menggunakn peralatan-peralatan sebagai berikut :

Sesang yaitu alat untuk menyusun benang sebelum dipasang pada alat tenun. Mattakh yaitu alat untuk menenun kain tapis yang terdiri dari bagian alat-alat : Terikan (alat menggulung benang) Cacap (alat untuk meletakkan alat-alat mettakh) Belida (alat untuk merapatkan benang) Kusuran (alat untuk menyusun benang dan memisahkan benang) Apik (alat untuk menahan rentangan benang dan menggulung hasil tenunan) Guyun (alat untuk mengatur benang) Ijan atau Peneken (tunjangan kaki penenun) Sekeli (alat untuk tempat gulungan benang pakan, yaitu benang yang dimasukkan melintang) Terupong/Teropong (alat untuk memasukkan benang pakan ke tenunan) Amben (alat penahan punggung penenun) Tekang yaitu alat untuk merentangkan kain pada saat menyulam benang emas.


Pembuatan benang.
Proses pemintalan kapas sudah dikenal masyarakat batak dulu yang disebut “mamipis” dengan alat yang dinamai “sorha”. Sebelumnya hapas “dibebe” untuk mengembangkan dalam mempermudah pemintal membentuk keseragaman ukuran. Seorang memintal dan seorang memutar sorha. Kemudian sorha ini disederhanakan dengan mengadopsi teknologi yang dibawa oleh Jepang semasa penjajahan. Sorha yang lebih modern dapat melakukan pemintalan dengan tenaga satu orang.
Pewarnaan.
Ulos adalah sehelai kain tenunan yang dirangkai menggunakan motif khusus yang disebut “gatip”
Ulos itu terbuat dari benang, benang dipintal dari kapas. Benang awalnya berwarna putih, dan untuk mendapatkan warna merah disebut “manubar” dan untuk mendapatkan warna hitam disebut “mansop”.
Bahan pewarna ulos terbuat dari bahan daundaunan berbagai jenis yang dipermentasi sehingga menjadi warna yang dikehendaki. Bahan tambahan pewarnaan dari proses permwntasi ini disebut “Itom” yang pada era tahun 60 an masih ada ditemukan dipasaran toba.
Orang yang melakukan pewarnaan benang ini disebut “parsigira”
Gatip.
Rangkaian grafis yang ditemukan dalam ulos diciptakan pada saat benang diuntai dengan ukuran standard. Untaian ini disebut “humpalan”. Satuan jumlah penggunaan benang untuk bahan tenun disebut “sanghumpal, dua humpal” dst. Gatip dibuat sebelum pewarnaan dilakukan. Benang yang dikehendaki tetap berwarna putih, diikat dengan bahan pengikat terdiri dari serat atau daun serai.
Unggas.
Uanggas adalah proses pencerahan benang. Pada umumnya benang yang selesai ditubar atau disop, warnanya agak kusam. Benang ini diunggas untuk lebih memberikan kesan lebih cemerlang. Orang yang melakukan pekerjaan ini disebut “pangunggas” dengan peralatan “pangunggasan”.
Benang dilumuri dengan nasi yang dilumerkan kemudian digosok dengan kuas bulat dari ijuk. Nasi yang dilumerkan itu biasanta disebut “indahan ni bonang”.
Benang yang sudah diunggas sifatnya agak kenyal dan semakin terurai setelah dijemur dibawah sinar matahari terik.
Ani
Benang yang sudah selesai diunggas selanjutnya memasuki proses penguntaian yang disebut “mangani”. Namun untuk mempermudah mangani, benang sebelumnya “dihuhul” digulung dalam bentuk bola. Alat yang dibutuhkan adalah “anian” yang terditi dari sepotong balok kayu yang diatasnya ditancapkan tongkat pendek sesuai ukuran ulos yang dikehendaki. Dalam proses ini, kepiawaian pangani sangat menentukan keindahan ulos sesuai ukuran dan perhitungan jumlah untaian benang menurut komposisi warna.
Tonun
Tonun (tenun) adalah proses pembentukan benang yang sudah “diani” menjadi sehelai ulos. Mereka ini yang lajim disebut “partonun”.
Sirat
Proses terakhir menjadikan ulos yang utuh adalah “manirat”. Orang yang melakukan pekerjaan ini disebut “panirat”. Sirat adalah hiasan pengikat rambu ulos. Biasanya dibentuk dengan motif gorga.






Diwali or Dīpāvali (Sanskrit: दीपावली, Hindi: दिवाली, Marathi: दिवाळी, Kannada: ದೀಪಾವಳಿ, Kokani: धाकली दिवाळी, Tamil: தீபாவளி, Telugu: దీపావళి, Urdu: دیوالی) is a significant 5-day festival in Hinduism, Sikhism, and Jainism occurring between the end of September and early November. It is also popularly known as the Festival of Lights. Diwali is an official holiday in India and Nepal.

The word दीपावली literally translates as a row of lamps in Sanskrit. It is traditional for adherents of Diwali-celebrating faiths to light small clay lamps (or Deep in Sanskrit: दीप) filled with oil to signify victory over the the evil within an individual. During Diwali, many wear new clothes and share sweets/snacks with each other. Some Indian business communities start their financial year by opening new account books on the first day of Diwali.
In Hinduism, Diwali marks the return of Lord Raama to his kingdom Ayodhya after defeating Ravana - the ruler of Lanka in the epic story of Ramayana. It also celebrates the slaying of the demon king Narakasura by Lord Krishna. Both signifying the victory of good over evil. In Jainism, Diwali marks the attainment of moksa by Mahavira in 527 BC. . In Sikhism, Diwali commemorates the return of Guru Har Gobind Ji to Amritsar after freeing 52 other Hindu kings imprisoned in Fort Gwalior by Emperor Jahangir. He was welcomed by the people who lit candles and divas to celebrate his return. Which is why Sikhs also refer to Diwali also as Bandi Chhorh Divas meaning "the day of release of detainees".
Diwali is considered to be national festival in India and Nepal. The aesthetic aspect of the festival is enjoyed around the world regardless of faith.



Berlin - Mulai Rampak Kendang sampai Baso Solo. Dalam semalam, warga Berlin, Jerman, menikmati beraneka produk budaya khas Pulau Jawa.

Sajian untuk penonton sungguh lengkap, ada tarian, lagu, sampai kuliner. Semua dihadirkan dalam Malam Budaya Indonesia, Sabtu (10/10/2009)  malam. KBRI Berlin, KJRI Frankfurt dan Hamburg bekerja sama dengan Pemkot Berlin menggelar acara spesial ini di tempat bergengsi Gedung Balaikota Rotes Rathaus, Berlin.


Antusias penonton pun luar biasa. Kapasitas ruang aula yang menampung sekitar 450 orang terisi penuh. Mereka yang tidak kebagian menonton lewat layar TV di luar ruangan. Malam Budaya Indonesia adalah bagian dari rangkaian acara Asia Pacific Week.

“Acara ini adalah untuk mendekatkan masyarakat Jerman dan Indonesia, dan untuk meningkatkan minat turis Jerman untuk mengunjungi Indonesia,” kata Kuasa Usaha Ad Interim KBRI Berlin Dyah WM Rubianto, dalam sambutannya.

Jawa dipilih sebagai fokus kebudayaan yang ditampilkan dalam dua segmen tempo dulu dan masa kini. Ada Tari Merak yang anggun sampai tabuhan Rampak Kendang yang seru, lucu dan energik. Tepuk tangan pun membahana,

Jawa kontemporer pun dihadirkan lewat lagu Keroncong yang memang banyak menjadi favorit bule-bule. Usai tarian dan lagu, ini saatnya peragaan busana batik dan lurik kontemporer karya Lina Berlina. Penonton terkesima melihat kain lurik khas Pedan dan Yogyakarta disulap menjadi busana prêt a porter gaya Eropa.

Malam Budaya Indonesia pun dituntaskan dengan sajian kuliner berupa bihun goreng, baso Solo dan aneka kue basah Indonesia. Acara ini juga menjadi ajang penggalangan dana bantuan gempa Sumbar lewat kotak sumbangan dan penjualan buku untuk amal.




Om Swastyastu
Rahajeng Nyanggra "GALUNGAN
DAN KUNINGAN"

Dumogi Hyang Widhi
Mapaica Panugrahan, Rahayu Lan Rahajeng

Ring Jagat Lan Semeton
Sareng Sami…



Galungan is a special day to venerate God that has created the universe along with it’s content reflected victory of virtue (Dharma) in fight against evil (adharma). On this day, they offered various kinds of obligation as a gratitude expression to the almighty of God ‘Ida Sang Hyang Widhi Wasa’ in their own family temple or kahyangan temple for blesshing peace and prosperity to the universe.

Pulau Flores adalah pulau utama di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Ia dikelilingi oleh puluhan pulau-pulau kecil dari ujung barat hingga ujung timur.

Pulau Flores didiami oleh hampir tiga puluh suku kecil dan besar. Setiap suku mempunyai bahasa daerah dan dialeknya masing-masing yang sangat sulit diucapkan dan dipelajari bagi para pendatang, meski bertahun-tahun telah menetap.

Diantara beberapa suku-suku dominan, di bagian barat pulau menyebar orang Manggarai, di bagian tengah tinggal orang Ngada, Riung dan Nage Keo, sedangkan di bagian timur berdiam orang Ende. Terus ke timur menetap orang Lio, Sikka dan Larantuka. Sejak negeri ini merdeka, masing-masing suku yang awalnya merupakan kerajaan-kerajaan lokal itu membentuk wilayahnya menjadi pemerintahan kabupaten. Karena itu, tiap-tiap kabupaten di Flores memiliki bahasa daerah dan tradisinya masing-masing yang tak sama satu dengan lainnya.

Tak hanya itu, mayoritas masing-masing penduduk di tiap kabupaten pun memeluk agama berbeda. Suku Ngada, Riung, Naga Keo adalah mayoritas pemeluk Katolik Ortodoks. Masyarakat Ende yang pada masa Portugis hingga Belanda mendirikan Kerajaan Ende, merupakan mayoritas muslim. Sementara suku Lio, Sikka hingga Larantuka umumnya pemeluk Protestan dan Katolik.

Meski berbeda suku, bahasa daerah, tradisi bahkan agama, namun semua suku, semua wilayah, semua daerah di Flores mewarisi satu tradisi yang sama, yaitu, tradisi tenun ikat.


Kesamaan tenun ikat semua suku di Flores ditemukan pada kesamaan bahan-bahan, teknik membuat benang, teknik menenun, teknik meracik warna dan alat pembuat. Perbedaannya hanya terdapat pada variasi motif, warna dan ragam hias.

Karena itu, pada umumnya kain tenun ikat Flores yang dibuat oleh kaum wanita berbahan dasar kapas yang dipilin menjadi benang oleh penenunnya sendiri, berbenang kasar, pewarnaan benang terbuat dari racikan beberapa jenis tumbuhan khas Flores, seperti mengkudu, tarum, zopha, kemiri, ndongu, buah usuk dan lain–lain.

Motif kain tenun tiap-tiap suku di Flores berbeda dengan kekhasannya dan ragamnya masing-masing. Teknik pembuatan motif kain tenun dilakukan dengan mengikat benang-benang lungsi. Pekerjaan ini dapat berlangsung selama dua hingga tiga purnama.

Seringkali pencelupan benang yang dipilin dari kapas dilakukan satu-persatu untuk setiap bakal kain sarung, meskipun kadang-kadang juga dilakukan sekaligus untuk beberapa buah kain sarung.

Ketika kerajaan-kerajaan lokal di Flores masih ada, sejumlah kelompok wanita bekerja khusus sebagai pembuat kain tenun untuk kebutuhan kalangan raja-raja di istana. Jika dahulu ada pembedaan pakaian adat berdasarkan status sosial, sekarang tidak lagi. Kini kain tenun ikat Flores dibuat untuk dijual di pasar, dipakai sehari-hari dan untuk upacara adat.

Semua kain tenun ikat Flores harus ditenun dengan alat tenun yang sangat tradisonal, dililit di pinggang wanita penenun, melekat tak terpisahkan.

Kapas yang telah dipilin menjadi benang oleh sang wanita penenun pun ditenun dua hingga tiga purnama saban hari menggunakan alat tenun sangat tradisional yang terdiri dari konggo, kape, fia, phoku dan sippe.

Alat-alat tenun sangat tradisional yang terbuat dari kayu dan bambu itu, berpadu melilit pinggang wanita penenun dari mentari setinggi tombak hingga sore menjelang.

Tiap gerakan dua tangan terampilnya memadukan alat-alat tenun, menghadirkan alunan sentakan menggoda, tercipta nada yang seakan melafazkan jeritan kehidupan.

Meski terdapat kesamaan dalam bahan-bahan, teknik membuat benang, alat tenun, teknik menenun dan meracik warna, namun tiap wilayah di Flores mewarisi motif tenun yang beragam.

Misalkan di daerah Ngada, terdapat motif tenun songket kuning emas sebagai pengganti songket benang emas. Tetapi tak seperti songket Palembang, kain tenun songket Ngada, Flores, yang ditenun dengan benang kapas ini mempunyai banyak persamaan dengan kain songket Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, yang tanpa benang emas dan perak layaknya songket Palembang.


Motif lain yang kerap dikreasikan masyarakat Ngada adalah motif dengan dominasi warna-warna gelap, antara lain, dengan kombinasi warna biru dan cokelat dengan garis-garis sederhana.


Sedangkan suku Nage Keo menghasilkan tenunan yang menampilkan motif bintik-bintik kecil dari teknik ikat pembentuk motif flora yang dikombinasikan dengan jalur-jalur kecil berwarna putih, merah dan biru.

Di kalangan masyarakat Sikka, motif kain tenun tak terlalu semarak. Umumnya didominasi warna hitam, biru tua atau biru hitam, dihiasi dengan jalur-jalur biru muda atau biru toska.

Selain itu, ada hal lain yang khas dalam pakaian adat Sikka, kain tenun warna hitam atau gelap hanya dipakai oleh mereka yang telah berumur, sedangkan kaum muda memakai kain tenun berwarna terang.

Kain tenun motif masyarakat Sikka bertolak belakang dengan motif tenun masyarakat Lio. Kain tenun ikat Lio, Flores tengah, bermotif ceplok seperti jelamprang pada kain batik. Selain motif ceplok, juga dihiasi motif daun, dahan, fauna dan ranting.

Kain tenun ikat dari kawasan ini dibuat lebih halus, lebih semarak ragam hiasnya dari manik dan kerang. Kain tenun ikat Lio dibuat dengan latar warna cokelat tua, diberi ragam hias berwarna cokelat muda campur kuning bergaris geometris dalam bentuk flora dan fauna.

Sementara kain tenun ikat Flores dari kawasan Ende, pesisir selatan Flores, menurut keterangan nenek dan beberapa sepupu perempuan saya yang memiliki keahlian menenun kain ikat, dikatakan bahwa motif kain tenun Ende, Flores, dipengaruhi oleh motif Eropa. Alasan mereka, Kerajaan Ende yang pendiriannya terkait perang di Gowa, Sulawesi, sejak masa Portugis berinteraksi dengan bangsa Eropa.

Kain tenun ikat Ende lebih banyak menggunakan warna dasar hitam, yang dipadu dengan cokelat dan merah, dengan menggunakan ragam hias motif ala Eropa.

Salah satu ragam hias kain tenun Ende, Flores, yang berbeda dengan kain daerah-daerah lain adalah hanya menggunakan satu motif pada bidang tengah-tengah kain. Motif tersebut diulang-ulang dan baru berhenti pada jalur pembatas bermotif sulur di kedua ujung kain yang menyerupai tumpal dan diberi hiasan rumbai-rumbai.

Adapun motif kain tenun Ngada, Flores, mempunyai keunikan di bagian kepala berwarna biru tua dan bagian badan kain di kiri dan kanan berwarna merah. Motif ragam hiasnya terletak pada bagian tengah kain. Hiasan pinggir atas dan bawah berupa tumpal bentuk daun.


Deskripsi sederhana ini semoga mampu menggambarkan ragam tenun ikat Flores yang hingga kini masih dipelajari dan dilestarikan oleh masyarakat setempat.

Warisan ini terus dilestarikan meski hingga hari ini tak terasa kehadiran dukungan pemerintah sehingga para penenunnya tetap terbelit kemiskinan dan belum mampu bersaing dalam dunia usaha.

Terselip kekhawatiran, akankan di masa depan tradisi warisan nenek moyang ini masih tetap dipelajari dan dilestarikan, toh dari sisi ekonomi tak mampu bersaing dengan kain-kain modern pabrikan.

Saya berharap, suatu saat nanti para penenun dari Pulau Bunga ini difasilitasi pemerintah dan dunia perbankan agar mampu menjadi pelaku-pelaku industri dan perajin kecil-menengah, seraya mampu menghidupi keluarganya dari profesi mulia ini, layaknya saudara-saudara mereka di Pulau Jawa yang melestarikan batik.



The History of Batik
Batik is an artistic technique of dyeing a cloth by using a wax-resist method. Wax-resist method is the most traditional way to dye or color a cloth. This method prevents the dye from spreading on the entire cloth and so as to give a beautiful pattern or design on the cloth. Batik is regarded as the cultural and traditional art in Indonesia. The traditional colors used for Batik are deep shades of indigo, dark brown and white which symbolize the three main Hindu Gods. Javanese Batik, from Jogjakarta with some particular meaning is found in countries of West Africa like Nigeria, Ghana, Cameroon, Uganda and Mali with the true Javanese idea, and in Asia like India, Sri Lanka, Bangladesh, Iran, Philippines, Malaysia, Thailand and Burma.
Long ago, in the ancient period around 1500 years ago, the dye resist designs on the cloth were found in Egypt and the Middle East along with the two major countries, samples are also found in Turkey, India, China, Japan and West Africa around hundreds of years ago. In the present date, Batik is highly developed form of art found on the island of Java, Indonesia. In the 17th century, the fabrics were highly decorated with Dutch transcripts, by it is often believed that complicated designs in Java were possible when the finely woven imported cloth that was from India to Indonesia in 1800s and then from Europe in 1815. The similar Batik designs that were done on textiles earlier are noticed on stone statues that are beautifully sculptured on the walls of Javanese temples like Prambanan AD 800, but then it is not yet confirmed that the cloth was Batik. These designs could be produced by weaving techniques too. However, by the 19th century became greatly developed form of art in the cultural life of the Javanese.
There were some specific Batik designs worn by the Javanese royalty and thus it was felt that Batik was originally meant to be worn by the monarchs of the royal Sultan’s palace. The Princesses and royal women might have encouraged the finest designs of Batik that reflect the traditional patters. Well, the untidy dyeing work with consequent waxing was done by the court artisans who worked under their direction.
Known as the great fans of art, Javanese royalty supported the development of traditional art form like silver embellishment, leather puppets known as wayang kulit in java and gamelan orchestra. The Javanese dalang (puppeteer) was a major source for the Batik patterns too. Wayang puppets are made from goat skin which was treated and colored to build false impression on the puppet, were usually sold to women who could get the necessary idea of batik designs from these puppets. The used charcoal and blew it through the holes that describe the design of puppet clothing, so that they could copy complicated patterns onto the cloth.
However, some scholars deny the fact that Batik was originally meant for royalty as they feel that it is meant for the rakyat, the people too. It was considered as a significant job for young women of the Central Java, revealing the fact that they are capable enough to handle a canting (an instrument shaped like pen to apply wax to the cloth) with enough tact and skill just like skills used in cookery or other household arts.

Lurik PEDAN


     Woven Lurik PEDAN is perhaps typical of one of the many works of the inherited tradition still trying to exist until now. It presence gives the wealth of cultural diversity nuances Archipelago. Through the process of which is still very traditional, using manual wooden loom, must now faced with the technological advances loom machine, which is of course more practical, rapid, and massive. Woven Lurik PEDAN also becoming marginalized.
     But apparently the company owned by Mr. Rachmad loom which is still managed from the start-up of about 60 years-it's not going to break the chains of production, which consistently rely on values grounded in tradition and local wisdom.
     In the midst of obstacles that melikupinya, managers hope the companies can continue to be developed by the child-grandchildren later in life. And a creative process, both in the diversity of designs, colors, and how the sales started to be developed, without having to change the means of production.

Gambar

UNESCO Tetapkan Batik Sebagai Warisan Budaya Indonesia
Batik sempat diklaim milik negara tetangga. Namun pada akhirnya, kain khas Indonesia itu diakui dunia sebagai warisan budaya Indonesia.

Pada 2 Oktober 2009 mendatang, UNESCO akan mengukuhkan batik Indonesia dalam daftar representatif Budaya Tak Benda Warisan Manusia. Pengukuhan tersebut rencananya akan dilaksanakan di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab.

"Pengukuhan batik Indonesia oleh UNESCO akan dilakukan kurang lebih pada pukul 20.00 WIB dan Presiden akan mendeklarasikannya secara resmi pada pukul 21.00 WIB" menurut Mohammad Nuh, Menteri Ad-Interim Kebudayaan dan Pariwisata yang ditemui di Gedung Departemen Kominfo, Jakarta Pusat.

Proses pengukuhan batik Indonesia cukup panjang, berawal pada 3 September 2008 yang kemudian diterima secara resmi oleh UNESCO pada tanggal 9 Januari 2009. Tahap selanjutnya adalah pengujian tertutup oleh UNESCO di Paris pada tanggal 11 hingga 14 Mei 2009.

Setelah diresmikan nanti, Mohammad Nuh mengharapkan perkembangan batik di Indonesia dan budaya lainnya semakin meningkat. "Semoga dengan dikukuhkannya batik Indonesia oleh UNESCO dapat menumbuhkan social awareness untuk mencintai dan menyelamatkan produksi asli Indonesia" lanjut Mohammad Nuh.

Setelah batik Indonesia, budaya lain yang sudah diajukan oleh Departemen Kebudayaan dan Pariwisata adalah "Best Practice" Diklat Budaya Batik Indonesia dan karya budaya berupa angklung Indonesia yang sudah dinominasikan pada tahun ini.

Ikat Trend for Spring Summer 2009



Ikat, is a style of weaving that uses a resist dyeing process similar to tie-dye on either the warp or weft before the threads are woven to create a pattern or design. A Double Ikat is when both the warp and the weft are tie-dyed before weaving.
Go ethnic this summer with these exotic prints from Asia. Be it an Ikat print skirt ,silk top, a handbag or home decor stuff - Ikat brings a breath of fresh style for spring Summer 2009.


Yom Kippur, the Day of atonement, is the most sacred of the Jewish holiday. It is regarded as the "Sabbath of Sabbaths."

By Yom Kippur the 40 days of repentance, that begin with the first of Elul, have passed. On Rosh Hashanah the God Almighty has judged most of mankind and has recorded his judgment in the Book of Life. But he has given a 10 day reprieve.

On Yom Kippur these 10 days of reprieve ends and the Book of Life is closed and sealed. Those who have repented for their sins are granted a good and happy New Year.

Since Yom Kippur is the day to ask forgiveness for promises broken to God , the day before is reserved for asking forgiveness for broken promises between people, as God cannot forgive broken promises between people.

The Customs or Minhagim:

Yom Kippur is a day of "NOT" doing. There is no blowing of the Shofar and Jews may not eat or drink, as fasting is the rule. It is believed that to fast on Yom Kippur is to emulate the angels in heaven, who do not eat, drink, or wash.

The Five Prohibitions of Yom Kippur:
  • Eating and drinking
  • Anointing with perfumes or lotions
  • Marital relations
  • Washing
  • Wearing leather shoes
Fasting:
While Yom Kippur is devoted to fasting, the day before is devoted to eating. According to the The Talmud the person "who eats on the ninth of Tishri (and fasts on the tenth) , it is as if he had fasted both the ninth and tenth." Prayer is also down played so that Jews can concentrate on eating and preparing for the fast.

The Prayer and Confession:
On the eve of Yom Kippur the community joins at the synagogue. Men put on prayer shawls (not usually worn in the evenings). Then as the night falls the cantor begins the "Kol Nidre", it is repeated 3 times, each time in a louder voice. The Kol Nidre emphasizes the importance in keeping vows, as violating an oath is one of the worst sins.

An important part of the Yom Kippur service is the "Vidui" (Viduy) or confession. The confessions serve to help reflect on ones misdeeds and to confess them verbally is part of the formal repentance in asking G-d's forgiveness. Because community and unity are an important part of Jewish Life, the confessions are said in the plural (We are guilty).

As Yom Kippur ends, at the last hour a service called "Ne'ila" (Neilah) offers a final opportunity for repentance. It is the only service of the year during which the doors to the Ark (where the Torah scrolls are stored) remain open from the beginning to end of the service, signifying that the gates of Heaven are open at this time.



"Faith makes all things possible.
Hope makes all things work.
Love makes all things beautiful.
May you have all of the three.
Happy Iedul Fitri."


Members of the House of Representatives (Senat) Special Region of Yogyakarta, Esti Wijayati, batik and Lurik proposed use as a uniform compulsory members of the Council. So that is a strong suggestion, he asked to be included in the order of the Board.

"By requiring uniform batik and Lurik, indirectly participate real action to help small and medium businesses," said Esti give reasons. He explained , batik has become the uniform of the Board of the previous period. But, batik just not enough. Lurik also deserve attention because of the cloth was nearly extinct.

Besides batik and Lurik, Esti proposed using Java language to be applied for the communication of the Board. "If it was to preserve the Javanese language, why not," said Esti. After all, he said, a provincial government of DIY is applying the use of Java language. Esti also proposed mandatory song sounded Indonesia Raya plenary meeting of the Board.

The proposal received positive response from the Democratic Faction Setyo Gatot Susilo. He immediately agreed. "This is to raise local products and provide a positive impact for batik craftsmen and Lurik," said Gatot. Thus, welfare Lurik and batik craftsmen are expected to increase.

Faction internal Among Democrats, said Billy, also would impose uniform batik on a particular day. "It was beyond the required day of the Board," he said. He also agreed when Indonesia Raya songs not only sounded when special plenary, but also on ordinary plenary.

However, as Chairman of the DPRD DIY, Nuryadi, says too early to discuss the proposal. Because, he said, the leadership of the Council of the formation of a higher priority than the House special committee to discuss the order. "We are prioritizing the establishment of a special committee," said Nuryadi. Right sir, especially concerning the budget for spending batik and Lurik.

IKAT is a method of patterning cloth by tying bunches of thread together in certain places before the thread is dyed. The parts of the thread which are to remain undyed are reserved by tying them tightly with material that resists the absorption of the dye.
the making of tenun


Due to a slight bleeding of the dyes, patterns created by this technique have a character of softness and an unusual effect which blends with the fabric texture.

This woman make the Tenun Ikat with a traditional machine called Mesin Tenun (woven).

 GAMELAN
Dalam sebuah ensemble musik "gamelan" (atw alat musik tradisional dari jawa), seluruh alat musik, dengan sifat dasar berbeda2, membentuk suatu simfoni yg agung. Let's have a look on their characters *I try to put the picture as well, but don't blame me if you cannot see them :p* :


In a music ensemble "gamelan" (traditional musical instruments of Java), the entire instrument,  form a grand symphony reply. Let's have a look on their characters * I try to put the picture as well, but do not blame me if you can not see them: p *:

demung:
Image hosted by Photobucket.com
Pimpinanya para balungan (alat musik pembentuk nada utama). Suaranya agak nge-bas, dan harus dipukul dengan keras.

A Leader of gamelan called the balungan (musical instrument forming the primary tones). His voice was nge-bass, and must hit hard.


saron:
Image hosted by Photobucket.com
Pengikut demung, suaranya lebih nyaring, tapi gak boleh dipukul tertalu keras *pengikut harus selalu di belakang bosnya :p*

Demung followers, his voice louder, but can not hit hard *  followers must always behind the boss: p *

peking:
Image hosted by Photobucket.com
Balungan dengan suara paling melengking dan dipukul 2 kali lebih cepat dari balungan lainnya. Benar2 ribut dan menghidupkan suasama.

Balungan the most strident voice and hit 2 times faster than other balungan. Really loud and turn the atmosphere.

slenthem:
Image hosted by Photobucket.com
Suaranya sangat nge-bas dan harus dimainkan dengan dipathet**, membuat suaranya nyaris tak terdengar *rada ndongkol kalo kebagian main yg ini :p*



His voice is very nge-bass and have played with dipathet **, making the voice barely audible * slightly annoyed if it gets played reply: p *
kethuk & kempyak:
Image hosted by Photobucket.com
Dimainkan hampir di setiap akhir gotro. (saya sendiri kurang tau aturannya ^^;;)



Played almost every end gotro. (I do not really know the rules ^^;;)
Image hosted by Photobucket.com
gong kempul:
Gong2 kecil yg dimainkan hampir di setiap akhir gotro (kalo di musik biasa gotro = birama)

Small gongs, played almost in every end gotro (if the usual music gotro = bar)

gong gedhe:
dimainkan tiap buka lagu dan tutup lagu. Jarang berbunyi tapi cukup penting (kalo lupa dipukul, sebuah lagu bakal berakhir dengan kacau :p)

played each opening and closing songs. Rarely read but quite important (if you forget to hit, a song would end up with a mess: p)


Image hosted by Photobucket.com
bonang barung:
Pimpinan kedua dari sebuah gamelan (bisa dibilang sebagai wakil ketua dalam sebuah organisasi :D). dipukul dengan irama yg berbeda dari irama lagu aslinya. Suaranya agak ngebas dan sebagai panutan untuk penentu tempo lagu

The second leader of a gamelan (exactly as the vice chairman of an organization: D). beaten with a different rhythm from the rhythm wrote the original song. His voice was ngebas and as a role model for determining the tempo of the song

bonang penerus:
Pengikut bonang barung. Suaranya agak nyaring dan dipukul 2 kali lebih cepat dari bonang barung.Termasuk dalam barisan pemeriah suasana.



Bonang barung followers. His voice was loud and was beaten 2 times faster than bonang barung. make a festive atmosphere.

kendhang:
Image hosted by Photobucket.com
Pemimpin utama dalam gamelan. Digunakan untuk menentukan kapan harus bermain dengan tempo cepat, kapan harus pindah irama, dan kapan harus berhenti. Merupakan alat musik ritmis atw tidak bernada (And listening to drum is far easier than listening to kendhang.



The main leaders in the gamelan. Used to determine when to play a fast tempo, when to change the rhythm, and when to stop. Instrument is not rhythmic or pitched (And listening to the drums is far easier than listening to kendhang.

---
**cara memukul gamelan yg langsung dipegang lagi sehabis dipukul (biar suaranya gak bergaung)



** how to beat a direct reply gamelan held again after beating (do not let her voice echoing)


ARTIKEL LAIN :

Agar Tampil Necis, Kain Lurik Jadi Seragam Dewan

Selasa, 15 September 2009 | 06:20 WIB
TEMPO Interaktif, Yogyakarta - Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Istimewa Yogyakarta, Esti Wijayati, mengusulkan batik dan lurik digunakan sebagai seragam wajib anggota Dewan. Supaya usulan ini kuat, ia minta agar dimasukkan dalam tata tertib Dewan.

"Dengan mewajibkan seragam batik dan lurik, secara tak langsung ikut bertindak nyata membantu usaha kecil menengah," kata Esti memberi alasan. Kepada Tempo dia menjelaskan, batik sudah menjadi seragam Dewan periode sebelumnya. Tapi, batik saja tak cukup. Lurik juga layak mendapat perhatian lantaran jenis kain itu sudah hampir punah.

Selain batik dan lurik, Esti mengusulkan penggunaan bahasa Jawa diberlakukan untuk komunikasi anggota Dewan. "Kalau memang untuk melestarikan bahasa Jawa, kenapa tidak," kata Esti. Toh, kata dia, pemerintahan se-Provinsi DIY sudah menerapkan penggunaan bahasa Jawa. Esti juga mengusulkan lagu Indonesia Raya wajib didengungkan saat rapat paripurna Dewan.

Usulan itu mendapat tanggapan positif dari Fraksi Demokrat Gatot Setyo Susilo. Ia langsung setuju saja. "Ini untuk mengangkat produk lokal serta memberi dampak positif bagi perajin batik dan lurik," kata Gatot. Dengan demikian, kesejahteraan perajin batik dan lurik diharapkan meningkat.

Di kalangan internal Fraksi Demokrat, kata Gatot, juga akan memberlakukan seragam batik pada hari tertentu. "Itu di luar hari yang diwajibkan Dewan," ujarnya. Dia pun setuju bila lagu Indonesia Raya tak hanya didengungkan saat paripurna istimewa, tapi juga pada paripurna biasa.

Namun, Ketua DPRD DIY sementara, Nuryadi, mengatakan terlalu dini untuk membahas usulan itu. Soalnya, kata dia, pimpinan Dewan lebih memprioritaskan pembentukan panitia khusus Dewan ketimbang membahas tentang tata tertib. "Kami lebih memprioritaskan pembentukan panitia khusus," kata Nuryadi. Benar pak, apalagi menyangkut anggaranuntuk belanja batik dan lurik.

Older Posts Home

MONICATOYS on Facebook
PENGIRIMAN
 
LURIK PEDAN